Waste to Food digunakan Pemkot Bandung untuk Kurangi Sampah

Waste to Food digunakan Pemkot Bandung untuk Kurangi Sampah
Dok Humas Pemkot Bandung

 

BANDUNG (golali.com) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memilih kelurahan Sukamiskin dan Kelurahan Cihaurgeulis sebagai percontohan dalam mengelola sampah "waste to food". Metode ini  mengolah sampah dapur menjadi pupuk, kompos basah dan kering. 

Wali Kota Bandung Oded M Danial mengungkapkan langkah ini sebagai bentuk kepedulian menjaga kebersihan. Tidak hanya sekedar bersih tetapi juga ramah lingkungan.

“Saya semakin semangat. Apa yang sudah dilakukan ini, dalam rangka melaksanakan tugas dan kepedulian,” ucap Oded dalam rilis yang diterima golali.com, Jumat (7/8/2020).


Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, Kamalia Purbani menjelaskan dua kelurahan yang terpilih menjadikan model untuk pengimplementasian Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan sampah). 

“Kami jadikan model impelementasi Kang Pisman. Kita harap ini ditingkatkan lagi menjadi lebih terpadu," ujar Kamalia. 


Untuk itu perlu sosialisasi, alat untuk mengelola sampah, sistem yang terpadu, dan partisipasi warga yang wajib untuk memahami pengelolaan sampah itu. 


“Kita dorong warga untuk fokus kepada kurangi sampah. Kami berikan pelatihan pemanfaatan sampah," sambung Kamalia.

Menurut Ketua RW 01 Kelurahan Sukamiskin, Wawan Setiawan warga di wilayahnya sudah mengelola sampah mulai dari sumbernya. Hal iu melalui proses edukasi yang cukup panjang.


“Setelah ada pendampingan (dari dinas terkait), per hari kita pilah sampah. Skala RW ini 40 persen, masyarakat diberikan fasilitas seperti ember dan sebagainya untuk mengelola sampah. Kita sortir lagi setiap hari, sehingga ketika jam 10 itu sudah tuntas,” terang Wawan.


Dalam prosesnya, sampah diolah  menghasilkan makanan untuk magot dan kompos yang bernilai ekonomi. 


“Kita olah untuk pakan magot. Keduanya pakai kompos, jadi ada nilai ekonominya, bisa dijual hasil itu,” tuturnya. 

Dalam sehari jumlah sampah yang dihasilkan warga di wilayah ini mencapai 80-140 kilogram. Sebelum adanya proses pengolahan sampah ini, dalam sehari petugas kebersihan mengangkut 3 kali sampah. Namun setelah sampah dikelola, hanya satu kali angkut. 


“Dulu 3 kali angkut, sekarang sekali angkut. Kita manfaatkan mesin inovasi yang dibuat warga. Seperti mesin cacah daun buatan sendiri dari bekas mesin 'jetpump' yang dimodifikasi,” pungkas Wawan.